Reruntuhan bangunan kali Jagir, sehari setelah penggusuran
Subuh, 4 Mei 2009 menjadi ingatan buruk bagi warga stren kali Jagir. Pemerintah kotaSurabaya akhirnya meluluhlantakkan bangunan di sepanjang stren kali Jagir.
Penghuni stren Kali Jagir adalah warga asal kawasan yang kini menjadi Pasar Wonokromo dan Terminal Joyoboyo. Mereka direlokasi Pemkot Surabaya di masa Walikota Sukotjo tahun 1960-an.
Kini, ratusan bangunan rumah maupun tempat usaha warga ini dianggap liar oleh pemerintah kotaSurabaya.
Warga berada di reruntuhan rumah
Saat ini, ratusan warga masih tinggal di emperan toko yang terpaksa tutup karena ditempati perabotan rumah warga. Warga stren akan tetap tinggal di pingggir jalan Jagir sambil menunggu bantuan untuk relokasi tempat tinggal mereka.
Kini rumah warga tinggal kerangka, beratap langit.
Satu goresan alis lagi, selesailah riasannya. Selendang merah bermotif kembang menggantung di pundak, rangkaian melati melingkar di atas kondenya, dan perhiasan berjejal di lengannya. Adalah Sri ( 21 ), waranggono atau sinder baru saja selesai dengan riasannya. Sri tidak sedang manggung di desanya malam itu, meski tawaran manggung untuk perayaan bersih desa atau hajatan banyak datang. Malam itu Sri ditemani Lastri kerabatnya menyiapkan pakaian dan alat-alat rias di ruang ganti gedung serbaguna di kota Bojonegoro.
Sejak sore Sri meninggalkan desanya , Temayang, sekitar 30 km menuju kota Bojonegoro mengadu gemulai tarian dan lengkingan suaranya dalam pemilihan Waranggono Tayub Favorit wilayah Bojonegoro. Puluhan peserta lainnya datang dari Ngasem, Bubulan, Dander, Sukosewu, Kanor dan Bojonegoro. Di atas panggung, matanya kosong, nyaris tanpa pandangan yang tegas, meski dari bibirnya lengkingan tembang Jawa lembut terdengar.
Bagi Sri, barangkali bukan kemenangan dan ketenaran yang dia impikan, karena Sri adalah “artis” di desanya sendiri. Tanpa embel-embel juarapun, tawaran menari dan nyinden selalu datang, apalagi di musim orang kawin. Malam itu kota Bojonegoro terasa dingin dan berangin. Usai malam pemilihan Waranggono, Sri pulang ke desanya, kembali menemani anak perempuannya, buah dari pernikahan muda yang kandas.
November 1901, Raden Ajeng Kartini, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara membaca karya sastra “Surat-Surat Cinta” dan “Max Havelaar”. Selain korespondensi dengan kawan-kawannya di Belanda, Kartini suka sekali membaca karya sastra Multatuli dan beberapa karya sastra tinggi berbahasa Belanda lainnya. Lantas, kemajuan berpikir teman-tamannya di Eropa menginspirasinya untuk berjuang menyibak tabir gelap hak-hak perempuan pribumi yang cuma sebatas tembok rumah.
Kebebasan menuntut ilmu bagi perempuan Jawa kala itu menjadi salah satu catatan penting yang diperjuangkannya.
Kini seabad lebih peringatan kebangkitan dari kegelapan Kartini menggema di seluruh negeri. Lihatlah sekolah-sekolah dan kantor-kantor yang serentak mengidentifikasi peringatan Kartinian sebagai medium menunjukkan identitas baju daerah. Sebuah penghormatan terhadap budaya bangsa memang tak boleh luntur. Namun perlahan dan terus terjadi, penghormatan perjuangan Kartini lebih banyak ditunjukkan dengan menggelar peragaan busana adat Nusantara. Rasanya jauh sekali dengan cita-cita yang dicatatkan Kartini dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Busana adat memang akan terus dipakai setahun sekali. Namun mudah-mudahan sekolah dan pendidik juga punya agenda untuk menularkan semangat kebebasan berpikir dan belajar bagi siswa.
Di tengah apatisme dan kendala teknis pemilu, ritual pemungutan suara telah ditunaikan di seluruh negeri.Pesta demokrasi rakyat lima tahunan memang menguras banyak biaya dan tenaga. Mudah-mudahan, pemilu kali ini membuahkan pemimpin-pemimpin yang lebih baik untuk Indonesia.
Ifan, 10 tahun, merengek kepada gurunya dengan bahasa yang tidak begitu jelas. Ia minta keluar ruangan untuk buang air kecil. Ibu guru melarangnya. Ifan bersikeras dan memaksa. Ibu guru tetap melarang dan berkata, “Ifan ga boleh bohong”. Ifan berusaha menyakinkan ibu guru dengan bahasanya sendiri.Merengek dan berkata-kata dengan kalimat yang kurang jelas. Rupanya ibu guru belum yakin benar dengan keinginan Ifan, karena biasanya jika Ifan pamit ke toilet justru mampir ke kantin sekolah. Usai sedikit “berdebat” Ifan memeluk ibu gurunya. Pagi itu Ifan, penyandang autisme harus menyelesaikan belajar berhitung di kelas Inklusi SDN Klampis Ngasem I Surabaya. Di ruang kelas khusus ini juga, Dika, 11 tahun sibuk bermain dengan kotak pensilnya sambil berucap dengan suara yang tidak beraturan. Sementara Bintang ,8 tahun, sedang belajar berhitung dalam bahasa Inggris dengan isyarat tangan gurunya. Masing-masing anak penyandang autis ini didampingi oleh seorang guru. Terdapat 3 ruang kelas khusus bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Mengutip puterakembara.org, Autisme atau biasa disebut ASD (Autistic Spectrum Disorder) adalah gangguan perkembangan fungsi otak yang komplex dan sangat bervariasi (spektrum). Biasanya gangguan perkembangan ini meliputi cara berkomunikasi, ber-interaksi sosial dan kemampuan ber-imajinasi. Dari data para ahli diketahui penyandang ASD anak lelaki lebih banyak (empat kali lebih banyak) dibanding penyandang ASD anak perempuan. Dalam penanganan autis ini, kerjasama antara dokter, terapis,dan orang tua sangat penting untuk kemajuan anak. Selain itu diagnosa dini dan peran aktif orang tua dapat mempermudah penanganan anak penyandang autisme
* Pemotretan Penyandang Autis Surabaya Post untuk memperingati World Autism Awareness Day, 2 April 2009.
Agustus 2008, Massimo Mastrorillo, fotografer Italia pemenang pertama World Press Photo 2006 kategori Nature Single, datang ke Porong, Sidoarjo. Bolak-balik selama 3 hari dengan motor dari Surabaya menuju reruntuhan desa Kedungbendo, Renokenongo dan pengungsian di Pasar Baru Porong.
Dengan beberapa kamera analog yang dibawa, diantaranya Rolleiflex dan Leica M3, Massimo mengabadikan “kematian” di tanah subur Porong pasca 2 tahun luapan Lumpur panas. Dia mencatat dan menghapal semua gambar yang baru saja direkamnya dalam buku kecil yang dibawanya. Tentu saja untuk mencocokkan file foto dan cerita yang didapatnya untuk kepentingan editing.
Selasa (17/3) malam, email dari Massimo mengabarkan bahwa foto-foto Porong telah meraih penghargaan di World Photography Award untuk kategori dokumenter - contemporary issue.
Secara personal Massimo sedikit temperamental namun sangat disiplin menjaga waktu. “Aku tidak punya waktu banyak, maka tiap kali datang ke sebuah lokasi, aku harus mendapatkan foto yang bagus,” tuturnya. Massimo justru kerap mengingatkan saya saat tiba waktu salat. Jika sudah begini, Massimo punya waktu istirahat. Sambil menunggui di depan musala atau masjid, Massimo mengelap kamera-kameranya.
Di tengah hunting selama tujuh hari mulai dari Porong, kawah Ijen dan kawasan prostitusi Dolly, Massimo berkelakar: “ Bisa-bisa aku menjadi muslim jika terlalu banyak jalan denganmu,” candanya.
Ya, Massimo yang mengaku tak berkeyakinan terhadap agama tetap menjadi kawan yang baik saat tiba waktu salat.
Kucing dipercaya telah dipelihara manusia sejak jaman Mesir kuno. Hewan ini dianggap telah menyelamatkan kehidupan dari kelaparan akibat serangan tikus.
Di mata fotografer, kucing kampung menjadi ide cemerlang untuk dituangkan dalam bingkai foto. Setidaknya bagi Fabiola Natasha dan R.m.Y Gani Sukarsono, fotografer Surabaya yang menampilkan 30 karya foto tentang kucing di galeri toko buku Petra Togamas, Surabaya, Sabtu (14/3).
Tema kucing menjadi menarik bukan saja karena tergolong hewan lucu,namun juga fenomena penyakit yang menyertai kucing dan populasinya yang nyaris tidak terdeteksi. Kucing berada dimana-mana. Mulai sudut kampung kumuh hingga restoran waralaba.
“Sedikit luka diujung jari oleh gigitan kucing yang membawa virus rabies adalah seratus persen kematian”, ungkap drh. Eka Andriyan, pembicara pameran di sela pembuakaan pameran.
Pameran foto kucing kali ini bukan saja menarik secara visual, namun juga sarat dengan informasi tentang kucing yang selama ini tak terdengar. Banyak kucing disayang namun tak sedikit yang menghindarinya.